Cinta Tak Bersambut
Halo, aku Shena. Aku akan berbagi sedikit tentang kisah cintaku di masa lampau.
Waktu itu, aku masih berstatus
mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bali. Umurku saat itu baru
menginjak 20 tahun. Sebagaimana kehidupan mahasiswa lazimnya, aku juga punya
teman satu genk dengan jumlah 8 orang, mereka adalah Riana, Merly, Arini,
Sovie, Aika, Lisa, Erca, dan Sissy. Kisah pertemanan kami dimulai dari awal
perkuliahan di Semester 1 dan masih terjalin baik hingga sekarang. Namun, tidak
dengan kisah asmaraku yang tergolong rumit dan sulit untuk mencapai jalinan
yang baik.
Hari itu, aku beserta kedua
temanku, Merly dan Arini, sepakat mengikuti club dance sebagai kegiatan non
reguler di kampus. Kesepakatan kami bertiga bukan karena adanya unsur egois
dengan tidak mengajak teman yang lain, namun teman-teman yang lain ada yang
memilih untuk mengikuti club lain, namun ada juga yang tidak ikut sama sekali.
Memasuki hari pertama latihan
dalam rangka The Week of Battle Dance yang mempertandingkan dance antar
fakultas, cukup membuatku merasa tegang dengan adanya orang-orang baru yang
belum familiar di mataku.
Seperti biasa, dalam suatu
perkumpulan pasti ada sesi perkenalan terutama bagi anggota yang baru
bergabung. Saat sesi perkenalan berlangsung, ada seseorang yang cukup menarik
perhatianku saat itu. Saat dia menyebut namanya: “Perkenalkan nama gue Harry.
Harry Borrison lengkapnya.” Seolah tak peduli dengan orang-orang di sekitarku,
aku terus memandangi dia hingga tak sadar membuatku tersenyum sendirian. “Oh,
namanya Harry. It’s a nice name like him”, decakku dalam hati sambil
menganggukkan kepala.
“ Shena, loe kenapa? Kok senyum
sendirian? Loe kesambet ya?” kejut Arini seraya menggoyang badanku. Takku
jawab pertanyaan Arini, namun hanya
memberikan senyuman sebagai balasannya.
“Ikh... Gue ragu betul nih sama
loe. Kesambet setan apa loe? Atau loe salah minum obat kali ya? Akh, tapi sama
aja deh, gak ada bedanya, senyum-senyum mulu. Ngeri juga gue ngeliat loe gitu,”
ucap Merly lagi. Dan lagi-lagi aku menghiraukan omongan mereka dan tetap
memandangi Harry.
Hari-hari berikutnya di club
dance, terasa lebih berwarna dengan kehadiran Harry di sana, pria manis
berkulit putih, tinggi semampai, dan berwajah lugu polos. Dalam beberapa kali
kesempatan, aku tak jarang melihat dia walau dengan sekedar melirik, dengan
harapan dia bisa melihat balik ke arahku. Pada akhirnya, kami pernah saling
bertatapan dari kejauhan. Rasanya deg-deg ser. Yang aku tak mengerti, mengapa
aku merasa deg-degan saat itu, padahal bukan pertama kalinya aku kagum pada
seseorang.
“Ya, Tuhan, ada apa denganku? Ada
apa dengan perasaan ini? Mengapa aku merasa sangat senang hingga merasa
deg-degan saat dia menatapku?” ujarku dalam hati seraya menundukkan kepala.
Kuangkat kembali kepalaku,
ternyata dia masih melihat ke arahku. Sebentar kemudian, dia beranjak dari
tempat duduknya dan mulai berjalan seolah-olah menuju ke arahku. Dugaanku
tepat, ternyata dia memang menuju ke tempat dudukku. Semakin dan semakin dekat,
sampai akhirnya dia berada tepat di hadapanku.
“Hai. Kamu Shena bukan?” dia
bertanya. Ya ampun, rasanya seolah aku ingin berlari menjauh dari hadapannya.
Grogi, salah tingkah, malu, takut, senang, semua bercampur menjadi satu di
dalam tubuhku. Kuberanikan ‘tuk menjawab dan kuangkat kepalaku untuk melihat
wajahnya. “Hai juga, Harry. Iya, aku Shena,” balasku mencoba tenang saat
menjawab.
“Boleh duduk gak?” tanyanya lagi.
“Oh, boleh-boleh. Silahkan duduk,
lagian gak ada yang larang kok!” jawabku lagi.
“Thank’s. By the way, kok kamu
sendirian aja? Kenapa gak gabung bareng yang lain?” tanyanya memecahkan suasana
yang kurasa cukup kikuk.
“Gak kenapa-kenapa, cuma lagi
pengen sendirian aja”, ujarku.
“Berarti aku ngenganggu kamu
donk? Kamu lagi pengen sendiri, aku malah nyamperin kamu.”
“Gak kok. Gak ganggu sama sekali.
Just relax.”
“Hm, baguslah. Oh ya, kalau aku
perhatikan, kamu terlihat berbeda dibanding cewek-cewek di sini. Kamu unik!”
“Hah.. Unik? Maksud kamu unik
gimana?”. Aku bertanya karena keheranan akan maksud pernyataannya sekaligus
merasa senang ternyata selama ini dia memperhatikanku. Senang rasanya.
“Ya, unik aja. Kamu orangnya
tenang, dan kelihatannya dewasa.”
“Hahaha... Kamu ada-ada aja. Baru
kamu yang bilang gitu ke aku. Itu karena kamu belum kenal banget sama aku
sehingga kamu menyimpulkan gitu. Tapi makasih ya, ternyata aku bisa baik juga
di mata orang lain,” ucapku sambil tertawa dan tersenyum karena merasa lucu.
“Yah, menurutku aku sih begitu,”
katanya membela.
Di tengah asyiknya kami bercerita,
terlihat dari kejauhan seseorang melambaikan tangan. Ternyata Mas Hardi, sang
koreografer kami, memanggil kami untuk segera bergabung karena latihan akan
segera dimulai. Segera kami berlari dan bergabung dengan teman yang lain.
Mulai dari hari itu, hubungan
kami terasa semakin dekat dan aku merasa lebih optimis untuk lebih dekat dengan
Harry. Namun, tak hanya aku yang mencoba untuk dekat dengan Harry. Di sisi
lain, ada Lea, gadis manis berkulit putih dengan pipi tembem dan merupakan
seseorang yang sangat periang, juga sedang mencoba mendekati Harry. Aku
akhirnya tersadar ternyata ada kisah cinta segitiga yang terjalin antara kami.
Jauh berbeda dengan aku yang cenderung lebih diam, dan tidak suka mengekspos
diri, Lea, merupakan gadis yang punya segudang teman, ramah, dan tahu menjalin
komunikasi dengan orang lain, bahkan orang baru.
Sebenarnya, aku tahu kisah cinta
segitiga ini dari temanku, Merly. Merly adalah seseorang yang punya segudang
informasi dan cukup mahir untuk mengorek-ngorek informasi yang terbilang secret
dari orang lain. Aku mulai dihantui oleh rasa pesimis. Tapi aku coba untuk
tetap bertahan dengan rasaku, hingga akhirnya rasa itu benar-benar harus pergi
dariku, di saat hari The Week of Battle Dance tiba. Hari itu, akhirnya aku tahu
bahwa Harry benar-benar telah menyukai Lea, bukan diriku. Keyakinanku itu
didukung dengan adanya hubungan mereka via ponsel melalui pesan singkat yang
mereka kirim dan saling berbalas. Aku benar-benar yakin akan itu, karena saat
acara itu aku duduk bersebelahan dengan Harry. Aku melihat dia menerima sebuah
pesan yang awalnya aku tak tahu dari siapa. Sambil tersenyum dia membuka pesan
itu, dan kucoba memberanikan diri untuk bertanya. “Pesan dari siapa?” tanyaku. Dia
tidak menjawab, dan hanya memberikan senyuman sebagai balasannya. Aku cuma bisa
diam, dan tetap bertanya-tanya siapa gerangan itu.
Namun aku segara tahu bahwa pesan
itu dari Lea. Selesai dia membalas pesan tersebut, dia langsung melihat ke arah
Lea dan tersenyum dan disambut dengan Lea membalas senyuman Harry. Saat itu
yang bisa aku rasakan cuma lengang, seolah-olah semua suara hilang dari ruangan
tersebut. Aku betul-betul merasa hancur dan sakit. Tak terasa air mataku mulai
menetes jatuh membasahi pipiku, namun segera kusela air mataku seakan tidak ada
orang yang ingin tahu termasuk Harry yang berada di sebelahku.
Segera aku keluar menuju toilet.
Di sana, aku berhenti di depan cermin dan berkata seorang diri, “Bodohnya loe,
Shena. Menyukai seseorang yang ternyata tak pernah membalas rasa suka loe.”
“Akh......” teriakku marah
menahan kesakitan.
Selang beberapa waktu, aku pun
kembali ke tempat dudukku agar tak membuat teman-temanku merasa curiga, tak
lupa aku membasuh wajahku dan memperbaiki penampilanku untuk menghilangkan
wajah sehabis menangis.
Ketepatan saat aku hendak duduk,
nomor urut kelompok kami dipanggil untuk
tampil. Segera kami menuju pentas dan langsung menyusun formasi. Musik
mulai bermain.
Di tengah-tengah penampilan, rasa
konsentrasiku mulai buyar hingga ada beberapa gerakan yang aku merasa kaku
untuk memainkannya. Tapi kucoba untuk tetap fokus kembali sehingga tidak membuat
kesalahan yang fatal bagi penampilan kelompok kami.
“Fokus, Shena. Jangan karena
masalah pribadimu, kau jadi lalai dan membuat semuanya kacau. Fokus,
fokus...!!” ujarku menyemangati diri.
Lumayan sukses juga penampilan
kami tanpa membuat rasa malu harus ada dan muncul. Semua temanku semangat dan
terlihat lebih rileks sekarang. Sama seperti kelompok dance lain akan ada rasa
lega sehabis tampil. Tapi, aku tetap merasa sama, tetap sakit dan hancur. Aku
mengasingkan diri mencari tempat duduk yang lebih sepi untuk menghindar dari
mereka, termasuk dari Harry.
Saat aku sudah berada di tempat
yang aku rasa pas, terlihat dari kejauhan bahwa Harry seperti sedang mencari
seseorang, dan aku yakin bahwa itu adalah aku. Namun aku mengalihkan
pandanganku dari Harry, dan mencoba tak menghiraukan Harry.
Tak terasa acara The Week of
Battle Dance berakhir juga, dengan kemenangan tak berada di tangan kami. Tanpa
pikir panjang, aku langsung menuju parkiran dan mengambil mobilku. Kutemui
teman-temanku yang lain, tak hanya Merly dan Arini, namun temanku yang lain
juga, karena mereka juga berada di gedung tersebut untuk menyaksikan
pertandingan kami untuk berpamitan pulang duluan. Segera setelah itu, aku
langsung melaju mobilku dengan cepat dan meninggalkan segerombolan orang banyak
itu.
Sesampainya di rumah, aku
langsung berbenah diri dan bersiap untuk tidur untuk menghilangkan penat yang
begitu terasa hari ini.
* * *
Tak
hanya hari itu aku melihat kebersamaan yang mulai terjalin antara Harry dan
Lea, pada kesempatan lainpun aku kerap menemukan mereka berdua semakin hari
semakin akrab.
Tepatnya
di acara party untuk merayakan kebersamaan anggota club dance. Hari itu, aku
sebenarnya sudah tidak berniat untuk pergi, namun dengan alasan karena bosan di
rumah, aku memutuskan untuk pergi juga. Dengan penuh harap untuk tak melihat
kebersamaan mereka kali ini, aku pun melangkahkan kakiku menuju gedung party.
Tapi seperti dugaanku, yang tak kuharapkan pun terjadi. Baru saja aku berdiri
di pintu gedung, terlihat mereka berdua tengah asyik bercerita dengan wajah
yang bahagia. Tangan mereka saling bergandengan. Rasa itu, rasa sakit itu mulai
menghantuiku lagi. Aku hanya bisa diam terpaku dan segera mengalihkan pikiranku
ke pesta saat itu.
Aku
membawa diriku dengan lebih santai dan menikmati setiap sajian malam itu, baik
makanan, minuman, musik, dan sapaan mereka yang berbincang-bincang denganku.
Namun aku memutuskan untuk pulang lebih awal sebelum pesta berakhir.
Tak
sadar, ternyata Merly mengikutiku dari belakang saat aku menuju ke parkiran.
“Shena, tunggu!” panggil Merly.
Aku
berbalik dan menjawab, “ Oh, loe Mer. Ada apa?” tanyaku lagi.
“Kenapa
buru-buru pulang? Loe gak kenapa-kenapa ‘kan, Shen?”
“Ya,
gue gak apa-apa kok. Cuma gue baru ingat kalau ada yang harus gue kerjakan. Gue
duluan ya?”. Segera aku pergi dan melaju mobilku dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya aku di rumah, aku
langsung menuju ke kamar tidurku. Kucampakkan tas dan sepatuku. Kurebahkan
tubuhku dan air mataku mulai menetes tanda kesedihan mendalam yang aku rasakan.
Aku menangis sepuas-puasnya tak perduli apakah orang-orang mendengarku atau
tidak. Tanpa sadar aku tertidur dengan pulas.
Keesokan paginya, aku menerima
pesan yang membuatku terbangun dari tidurku. Aku ambil ponselku dan membaca
pesan tersebut yang ternyata dari Merly. Isi pesannya : “Temui kami di kampus hari ini, kita hang out bareng-bareng.”
Aku langsung berbenah diri untuk
segera pergi ke kampus untuk menemui mereka dang hang out bareng karena memang
hari itu hari Sabtu dan tidak ada jadwal perkuliahan.
Sesampainya di kampus, aku pun
berbaur bersama mereka, bercanda, tertawa, dan bercerita dengan mereka seperti
biasa. Setidaknya ini dapat lebih menghiburku dari pada aku di rumah berdiam
diri dan mengingat kisah cintaku yang begitu pelik.
* * *
Beberapa
bulan kemudian. Tak terasa aku sudah memasuki semester VI. Rasaku terhadap
Harry masih tetap ada, walaupun sempat hilang sewaktu liburan karena tak
bertemu dengannya. Namun ada perbedaan rasa itu antara dulu dan sekarang.
Sekarang aku lebih bisa mengantur emosi dan tingkahlakuku saat berada
berpapasan dengan Harry. Tak ada rasa grogi, salah tingkah lagi, tapi aku lebih
bisa dewasa dan tenang. Intensitas tatap muka antara kami pun lebih sering dari
pada waktu kemarin. Senang juga tapi tetap menjaga jarak.
Tak
hanya aku dan Harry, namun juga Lea dan Harry, terlihat ada jarak antara
mereka. Entah perasaanku saja atau memang terjadi, tapi aku merasa mereka tidak
sedekat dulu. Mereka lebih sering terlihat sendiri tak berdua lagi. Seakan tak
ada hubungan special lagi di antara mereka.
“Ada
apa, ya?” pikirku sendiri.
Tak
hanya itu, Lea pun terlihat tak acuh jika bertemu denganku. Tak seperti
biasanya yang selalu senyum dan menegurku. Aku memang senang jika mereka tak
bersama seperti dulu, itu tandanya aku memiliki kesempatan untuk dengan lagi
dengan Harry. Tapi satu hal yang pasti untuk sekarang adalah aku mencoba untuk
tidak mengharapkan apa yang sudah hilang dariku yaitu cintaku yang tak pernah
bersambut.
T A M A T

Tidak ada komentar:
Posting Komentar