Kamis, 12 Februari 2015

My Story : Cinta Tak Bersambut


Cinta Tak Bersambut




Halo, aku Shena. Aku akan berbagi sedikit tentang kisah cintaku di masa lampau.

Waktu itu, aku masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bali. Umurku saat itu baru menginjak 20 tahun. Sebagaimana kehidupan mahasiswa lazimnya, aku juga punya teman satu genk dengan jumlah 8 orang, mereka adalah Riana, Merly, Arini, Sovie, Aika, Lisa, Erca, dan Sissy. Kisah pertemanan kami dimulai dari awal perkuliahan di Semester 1 dan masih terjalin baik hingga sekarang. Namun, tidak dengan kisah asmaraku yang tergolong rumit dan sulit untuk mencapai jalinan yang baik.
Hari itu, aku beserta kedua temanku, Merly dan Arini, sepakat mengikuti club dance sebagai kegiatan non reguler di kampus. Kesepakatan kami bertiga bukan karena adanya unsur egois dengan tidak mengajak teman yang lain, namun teman-teman yang lain ada yang memilih untuk mengikuti club lain, namun ada juga yang tidak ikut sama sekali.
Memasuki hari pertama latihan dalam rangka The Week of Battle Dance yang mempertandingkan dance antar fakultas, cukup membuatku merasa tegang dengan adanya orang-orang baru yang belum familiar di mataku.
Seperti biasa, dalam suatu perkumpulan pasti ada sesi perkenalan terutama bagi anggota yang baru bergabung. Saat sesi perkenalan berlangsung, ada seseorang yang cukup menarik perhatianku saat itu. Saat dia menyebut namanya: “Perkenalkan nama gue Harry. Harry Borrison lengkapnya.” Seolah tak peduli dengan orang-orang di sekitarku, aku terus memandangi dia hingga tak sadar membuatku tersenyum sendirian. “Oh, namanya Harry. It’s a nice name like him”, decakku dalam hati sambil menganggukkan kepala.
“ Shena, loe kenapa? Kok senyum sendirian? Loe kesambet ya?” kejut Arini seraya menggoyang badanku. Takku jawab  pertanyaan Arini, namun hanya memberikan senyuman sebagai balasannya.
“Ikh... Gue ragu betul nih sama loe. Kesambet setan apa loe? Atau loe salah minum obat kali ya? Akh, tapi sama aja deh, gak ada bedanya, senyum-senyum mulu. Ngeri juga gue ngeliat loe gitu,” ucap Merly lagi. Dan lagi-lagi aku menghiraukan omongan mereka dan tetap memandangi Harry.
Hari-hari berikutnya di club dance, terasa lebih berwarna dengan kehadiran Harry di sana, pria manis berkulit putih, tinggi semampai, dan berwajah lugu polos. Dalam beberapa kali kesempatan, aku tak jarang melihat dia walau dengan sekedar melirik, dengan harapan dia bisa melihat balik ke arahku. Pada akhirnya, kami pernah saling bertatapan dari kejauhan. Rasanya deg-deg ser. Yang aku tak mengerti, mengapa aku merasa deg-degan saat itu, padahal bukan pertama kalinya aku kagum pada seseorang.
“Ya, Tuhan, ada apa denganku? Ada apa dengan perasaan ini? Mengapa aku merasa sangat senang hingga merasa deg-degan saat dia menatapku?” ujarku dalam hati seraya menundukkan kepala.
Kuangkat kembali kepalaku, ternyata dia masih melihat ke arahku. Sebentar kemudian, dia beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan seolah-olah menuju ke arahku. Dugaanku tepat, ternyata dia memang menuju ke tempat dudukku. Semakin dan semakin dekat, sampai akhirnya dia berada tepat di hadapanku.
“Hai. Kamu Shena bukan?” dia bertanya. Ya ampun, rasanya seolah aku ingin berlari menjauh dari hadapannya. Grogi, salah tingkah, malu, takut, senang, semua bercampur menjadi satu di dalam tubuhku. Kuberanikan ‘tuk menjawab dan kuangkat kepalaku untuk melihat wajahnya. “Hai juga, Harry. Iya, aku Shena,” balasku mencoba tenang saat menjawab.
“Boleh duduk gak?” tanyanya lagi.
“Oh, boleh-boleh. Silahkan duduk, lagian gak ada yang larang kok!” jawabku lagi.
“Thank’s. By the way, kok kamu sendirian aja? Kenapa gak gabung bareng yang lain?” tanyanya memecahkan suasana yang kurasa cukup kikuk.
“Gak kenapa-kenapa, cuma lagi pengen sendirian aja”, ujarku.
“Berarti aku ngenganggu kamu donk? Kamu lagi pengen sendiri, aku malah nyamperin kamu.”
“Gak kok. Gak ganggu sama sekali. Just relax.”
“Hm, baguslah. Oh ya, kalau aku perhatikan, kamu terlihat berbeda dibanding cewek-cewek di sini. Kamu unik!”
“Hah.. Unik? Maksud kamu unik gimana?”. Aku bertanya karena keheranan akan maksud pernyataannya sekaligus merasa senang ternyata selama ini dia memperhatikanku. Senang rasanya.
“Ya, unik aja. Kamu orangnya tenang, dan kelihatannya dewasa.”
“Hahaha... Kamu ada-ada aja. Baru kamu yang bilang gitu ke aku. Itu karena kamu belum kenal banget sama aku sehingga kamu menyimpulkan gitu. Tapi makasih ya, ternyata aku bisa baik juga di mata orang lain,” ucapku sambil tertawa dan tersenyum karena merasa lucu.
“Yah, menurutku aku sih begitu,” katanya membela.
Di tengah asyiknya kami bercerita, terlihat dari kejauhan seseorang melambaikan tangan. Ternyata Mas Hardi, sang koreografer kami, memanggil kami untuk segera bergabung karena latihan akan segera dimulai. Segera kami berlari dan bergabung dengan teman yang lain.
Mulai dari hari itu, hubungan kami terasa semakin dekat dan aku merasa lebih optimis untuk lebih dekat dengan Harry. Namun, tak hanya aku yang mencoba untuk dekat dengan Harry. Di sisi lain, ada Lea, gadis manis berkulit putih dengan pipi tembem dan merupakan seseorang yang sangat periang, juga sedang mencoba mendekati Harry. Aku akhirnya tersadar ternyata ada kisah cinta segitiga yang terjalin antara kami. Jauh berbeda dengan aku yang cenderung lebih diam, dan tidak suka mengekspos diri, Lea, merupakan gadis yang punya segudang teman, ramah, dan tahu menjalin komunikasi dengan orang lain, bahkan orang baru.
Sebenarnya, aku tahu kisah cinta segitiga ini dari temanku, Merly. Merly adalah seseorang yang punya segudang informasi dan cukup mahir untuk mengorek-ngorek informasi yang terbilang secret dari orang lain. Aku mulai dihantui oleh rasa pesimis. Tapi aku coba untuk tetap bertahan dengan rasaku, hingga akhirnya rasa itu benar-benar harus pergi dariku, di saat hari The Week of Battle Dance tiba. Hari itu, akhirnya aku tahu bahwa Harry benar-benar telah menyukai Lea, bukan diriku. Keyakinanku itu didukung dengan adanya hubungan mereka via ponsel melalui pesan singkat yang mereka kirim dan saling berbalas. Aku benar-benar yakin akan itu, karena saat acara itu aku duduk bersebelahan dengan Harry. Aku melihat dia menerima sebuah pesan yang awalnya aku tak tahu dari siapa. Sambil tersenyum dia membuka pesan itu, dan kucoba memberanikan diri untuk bertanya. “Pesan dari siapa?” tanyaku. Dia tidak menjawab, dan hanya memberikan senyuman sebagai balasannya. Aku cuma bisa diam, dan tetap bertanya-tanya siapa gerangan itu.
Namun aku segara tahu bahwa pesan itu dari Lea. Selesai dia membalas pesan tersebut, dia langsung melihat ke arah Lea dan tersenyum dan disambut dengan Lea membalas senyuman Harry. Saat itu yang bisa aku rasakan cuma lengang, seolah-olah semua suara hilang dari ruangan tersebut. Aku betul-betul merasa hancur dan sakit. Tak terasa air mataku mulai menetes jatuh membasahi pipiku, namun segera kusela air mataku seakan tidak ada orang yang ingin tahu termasuk Harry yang berada di sebelahku.
Segera aku keluar menuju toilet. Di sana, aku berhenti di depan cermin dan berkata seorang diri, “Bodohnya loe, Shena. Menyukai seseorang yang ternyata tak pernah membalas rasa suka loe.”
“Akh......” teriakku marah menahan kesakitan.
Selang beberapa waktu, aku pun kembali ke tempat dudukku agar tak membuat teman-temanku merasa curiga, tak lupa aku membasuh wajahku dan memperbaiki penampilanku untuk menghilangkan wajah sehabis menangis.
Ketepatan saat aku hendak duduk, nomor urut kelompok kami dipanggil untuk  tampil. Segera kami menuju pentas dan langsung menyusun formasi. Musik mulai bermain.
Di tengah-tengah penampilan, rasa konsentrasiku mulai buyar hingga ada beberapa gerakan yang aku merasa kaku untuk memainkannya. Tapi kucoba untuk tetap fokus kembali sehingga tidak membuat kesalahan yang fatal bagi penampilan kelompok kami.
“Fokus, Shena. Jangan karena masalah pribadimu, kau jadi lalai dan membuat semuanya kacau. Fokus, fokus...!!” ujarku menyemangati diri.
Lumayan sukses juga penampilan kami tanpa membuat rasa malu harus ada dan muncul. Semua temanku semangat dan terlihat lebih rileks sekarang. Sama seperti kelompok dance lain akan ada rasa lega sehabis tampil. Tapi, aku tetap merasa sama, tetap sakit dan hancur. Aku mengasingkan diri mencari tempat duduk yang lebih sepi untuk menghindar dari mereka, termasuk dari Harry.
Saat aku sudah berada di tempat yang aku rasa pas, terlihat dari kejauhan bahwa Harry seperti sedang mencari seseorang, dan aku yakin bahwa itu adalah aku. Namun aku mengalihkan pandanganku dari Harry, dan mencoba tak menghiraukan Harry.
Tak terasa acara The Week of Battle Dance berakhir juga, dengan kemenangan tak berada di tangan kami. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju parkiran dan mengambil mobilku. Kutemui teman-temanku yang lain, tak hanya Merly dan Arini, namun temanku yang lain juga, karena mereka juga berada di gedung tersebut untuk menyaksikan pertandingan kami untuk berpamitan pulang duluan. Segera setelah itu, aku langsung melaju mobilku dengan cepat dan meninggalkan segerombolan orang banyak itu.
Sesampainya di rumah, aku langsung berbenah diri dan bersiap untuk tidur untuk menghilangkan penat yang begitu terasa hari ini.
* * *
                Tak hanya hari itu aku melihat kebersamaan yang mulai terjalin antara Harry dan Lea, pada kesempatan lainpun aku kerap menemukan mereka berdua semakin hari semakin akrab.
                Tepatnya di acara party untuk merayakan kebersamaan anggota club dance. Hari itu, aku sebenarnya sudah tidak berniat untuk pergi, namun dengan alasan karena bosan di rumah, aku memutuskan untuk pergi juga. Dengan penuh harap untuk tak melihat kebersamaan mereka kali ini, aku pun melangkahkan kakiku menuju gedung party. Tapi seperti dugaanku, yang tak kuharapkan pun terjadi. Baru saja aku berdiri di pintu gedung, terlihat mereka berdua tengah asyik bercerita dengan wajah yang bahagia. Tangan mereka saling bergandengan. Rasa itu, rasa sakit itu mulai menghantuiku lagi. Aku hanya bisa diam terpaku dan segera mengalihkan pikiranku ke pesta saat itu.
                Aku membawa diriku dengan lebih santai dan menikmati setiap sajian malam itu, baik makanan, minuman, musik, dan sapaan mereka yang berbincang-bincang denganku. Namun aku memutuskan untuk pulang lebih awal sebelum pesta berakhir.
                Tak sadar, ternyata Merly mengikutiku dari belakang saat aku menuju ke parkiran. “Shena, tunggu!” panggil Merly.
                Aku berbalik dan menjawab, “ Oh, loe Mer. Ada apa?” tanyaku lagi.
                “Kenapa buru-buru pulang? Loe gak kenapa-kenapa ‘kan, Shen?”
                “Ya, gue gak apa-apa kok. Cuma gue baru ingat kalau ada yang harus gue kerjakan. Gue duluan ya?”. Segera aku pergi dan melaju mobilku dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya aku di rumah, aku langsung menuju ke kamar tidurku. Kucampakkan tas dan sepatuku. Kurebahkan tubuhku dan air mataku mulai menetes tanda kesedihan mendalam yang aku rasakan. Aku menangis sepuas-puasnya tak perduli apakah orang-orang mendengarku atau tidak. Tanpa sadar aku tertidur dengan pulas.
Keesokan paginya, aku menerima pesan yang membuatku terbangun dari tidurku. Aku ambil ponselku dan membaca pesan tersebut yang ternyata dari Merly. Isi pesannya : “Temui kami di kampus hari ini, kita hang out bareng-bareng.
Aku langsung berbenah diri untuk segera pergi ke kampus untuk menemui mereka dang hang out bareng karena memang hari itu hari Sabtu dan tidak ada jadwal perkuliahan.
Sesampainya di kampus, aku pun berbaur bersama mereka, bercanda, tertawa, dan bercerita dengan mereka seperti biasa. Setidaknya ini dapat lebih menghiburku dari pada aku di rumah berdiam diri dan mengingat kisah cintaku yang begitu pelik.
* * *
                Beberapa bulan kemudian. Tak terasa aku sudah memasuki semester VI. Rasaku terhadap Harry masih tetap ada, walaupun sempat hilang sewaktu liburan karena tak bertemu dengannya. Namun ada perbedaan rasa itu antara dulu dan sekarang. Sekarang aku lebih bisa mengantur emosi dan tingkahlakuku saat berada berpapasan dengan Harry. Tak ada rasa grogi, salah tingkah lagi, tapi aku lebih bisa dewasa dan tenang. Intensitas tatap muka antara kami pun lebih sering dari pada waktu kemarin. Senang juga tapi tetap menjaga jarak.
                Tak hanya aku dan Harry, namun juga Lea dan Harry, terlihat ada jarak antara mereka. Entah perasaanku saja atau memang terjadi, tapi aku merasa mereka tidak sedekat dulu. Mereka lebih sering terlihat sendiri tak berdua lagi. Seakan tak ada hubungan special lagi di antara mereka.
                “Ada apa, ya?” pikirku sendiri.
                Tak hanya itu, Lea pun terlihat tak acuh jika bertemu denganku. Tak seperti biasanya yang selalu senyum dan menegurku. Aku memang senang jika mereka tak bersama seperti dulu, itu tandanya aku memiliki kesempatan untuk dengan lagi dengan Harry. Tapi satu hal yang pasti untuk sekarang adalah aku mencoba untuk tidak mengharapkan apa yang sudah hilang dariku yaitu cintaku yang tak pernah bersambut.

T A M A T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar